Print this page
Wabni Sabilillah (Sabil) Wabni Sabilillah (Sabil)

Sekali Layar Dibentang Pantang untuk Diturunkan

Ahh, siang ini terik surya lebih panas dari biasanya. Aku harus menyiapkan pelindung kepala super ekstra dibanding cuaca normal seperti kemarin-kemarin. Mudah-mudahan rejeki hari ini tetap berpihak atau syukur-syukur malah datang lebih besar.

Jaring dan peralatan lain sudah siap menyapaku. Deru ombak dengan ritme serta gulungannya yang khas seakan juga sudah tahu, jika jam segini (sepulang anak sekolah), dimana anak-anak seuasiaku (kelas MTS) sedang sibukknya bermain, adalah tiba bagi denting kayuh perahu kecilku untuk berlabuh.

Tak menunggu lama, komando dari sang nahkoda pun terdengar lantang memanggilku. Panggilan itu adalah sebagai tanda, jika pelisir lara untuk meraih sejuta asa sudah siap dimulai. Hanya dengan menggunakan bahasa hati sebagi kompas mengarungi laut biru, jala pun ditebar dari harapan yang satu ke harapan yang lain. Terkadang perahu sederhana kami penuh dengan seabrek ikan. Namun tak jarang pula, perahu kami "sepi penghuni". Hanya dipenuhi bau keringat serta sisa amis hasil tangkapan kemarin.

Namun kami sadar, berapapun hasil yang kami dapatkan, itulah jatah rejeki yang diberikan-Nya kepada kami. Bukannya sebuah rasa kepasarahan. Namun bagi kami penduduk kampung nelayan di sebuah desa terpencil di desa Sepangkur Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, hal itu bukanlah sebuah "karma". Kami sudah terbiasa hidup dengan bekerja keras dan serba apa adanya.

Meski teritorial desaku masuk pada wilayah Sumenep, namun pada kenyataannya desaku lebih dekat dengan wilayah Bali. Di peta pun nama pulau dimana desaku berada, hingga beberapa kali ganti presiden, wilayahku juga belum pernah terpampang. Tak heran jika pada akhirnya aku lebih tahu wajah pulau tetangga 'Bali' dan hampir tidak pernah tahu, bagaimana "wajah" Sumenep yang katanya banyak sekali lampu gemerlap.

Menginjak bangku MTS, untuk mencapai pesantren (sekolah, red) kami dan semua teman sekampung tiap hari harus melalui sekitar 4 pulau terlebih dahulu atau sekitar 2-3 jam perjalanan laut. Adakalanya saat jenuh datang, aku merasa iri dengan anak sebayaku di seberang sana. Mereka tidak perlu melaut, mereka seakan tenang, nyaman, dan tiada kendala untuk menjalani aktivitas keseharian. Begitulah rutinitas itu tiap hari kujalani. Sekolah, melaut, sekolah dan melaut. Ya itulah 'Deru Biru dari Sapeken'. Sebuah lukisan dari seorang Wabni Sabilillah, anak seorang nelayan pedalaman.

Berganti Merenda Mimpi


Pemandangannku mulai berganti tatkala aku mulai lepas MTS. Tahun 2006 aku berkesempatan masuk pondok pesantren Tadiponegoro, di wilayah Klungkung, Bali. Pondok ini dikenal dengan ikon dua bahasanya, yakni Arab dan Inggris. Sepintas terdengar memang terasa membanggakan bisa bergabung didalamnya. Apalagi bagi seorang anak "pelosok" sepertiku. Kenyataannya tidak demikian. Hari-hari pertama bergabung dipondok itu, sangat membuatku tertekan. Jangankan berbahasa Inggris atau Arab dengan lancar. Untuk belajar adaptasi ngomong bahasa Indonesia saja susahnya minta ampun.

Detak jam terus berputar dan tetap setia menemaniku dalam proses pembelajaran. Lidahku sudah mulai fasih untuk mengucap logat dalam bahasa Indonesia. Kupingku juga mulai terbiasa mendengar orang ber-bahasa Inggris. Maklum pesantrennku termasuk sangat sering dikunjungi oleh turis asing.

Masih di tahun 2006 di periode bulan Juni, aku bertemu Mario yang tak lain adalah penjaga warnet Om-saya di Bali. Waktu itu Mario bagiku termasuk orang yang hebat. Dia sangat lihai berbicara bahasa Inggris. Karena kesuakaannya sama bahasa Inggris, sampai-sampai beli rokok saja dia menggunakan bahasa Inggris. Padahal si penjualnya hanya terdiam seribu bahasa. Di kampus Mario juga termasuk disegani karena kecakapannya dalam ber-bahasa Inggris. Pemandangan itu aku lihat tatkala dalam sebuah kesempatan ia mengajakku pergi ke kampusnya.

Diam-diam aku mulai tertarik dengan kemampuannya. Tak kuasa menahan rasa ingin tahu, akupun mengoreknya dari Mario. Bak gayung bersambut Mario pun menjelaskan dengan gamblang apa-apa yang ingin aku tahu.

"Kalau kamu tertarik dan ingin belajar bahasa Inggris seperti aku, kamu datang saja ke BEC. Letaknya di pulau Jawa, tepatnya diwilayah Pare, Jawa Timur. Sampai di situ kamu nanya saja, sudah banyak yang tahu," demikian jawaban itu kudengar dengan gamblang dari Mario.

Pasca pertemuan itu, mimpi untuk menuju Pare pasca lulus dari pondok serasa terbangun begitu kokoh. Bahkan mimpi itu kian menggema di dada dan berubah menjadi sebuah cita-cita yang kuat.

Alhamdulillah akhirnya aku lulus dari Pesantren. Namun masuk tahun 2010, aku jatuh sakit. Meskipun demikian, aku memaksakan diri berpamitan dengan keluarga untuk menuju Pare.
"Kamu kan sakit keras, kenapa memaksakan diri ke Pare".
"Ah, biarlah. Aku masih punya cita-cita yang belum terwujud. Kalaupun akhirnya ajal menjemput, biarlah ajal itu menjemputku di tempat aku menempuh cita-citaku," demikian jawaban ngeyelku kepada keluargaku.

Singkat cerita di tahun 2010 aku berhasil masuk BEC. Namun apadaya, aku hanya sampai program CTC. Aku sudah tidak punya bekal dan sudah tidak mampu lagi membiayai hidup di Pare. Tahun itu pula aku kembali ke Bali untuk kembali bekerja dan mulai mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan berharap bisa kembali ke 'kampus Singgahan'.

Aku Datang Kembali

Tak terasa hari ini sudah medio 2013. Tak terasa pula tabungannku sudah menginjak digit seperti yang kuharapkan. Alhamdulillah, tiga tahun berlalu, cucuran keringatku  dapat menjaga semangat dan cita-citaku untuk tetap bisa mengenyam ilmu di BEC. Meski pun sebenarnya aku sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan, namun aku tetap memutuskan untuk kembali ke BEC. Tahun 2013 aku kembali mendaftar di BEC.

Kegagalan di BEC pada 2010 sangat membantuku melalui tahapan kedua belajarku. Detik, menit, jam hingga sejengkal demi sejengkal langkah dapat kulalui. Kini aku sudah menginjak di kelas program pasca BEC, MS-55. Sebuah kelas yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang sudah lulus di program akhir (TC) BEC.

Aku bangga berada didalamnya. Aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari BEC. Di sini aku banyak belajar tentang makna hidup. Dan di sini pula aku banyak belajar tentang bagaimana bermanfaat dalam kehidupan.

Masih ada yang belum aku wujudkan, yakni membangun desaku dengan berbekal ilmu yang aku dapatkan. Namun sebelumnya aku ingin membangun sebuah bisnis yang bisa berguna dengan mempekerjakan orang-orang di desaku. Semoga hal itu dapat terwujud dengan terus mengayunkan sebuah semangat, "Sekali Layar Dibentang Pantang untuk Diturunkan".

Itulah sebuah filosofi seorang anak nelayan. Sebuah filosofi yang sampai detik ini dapat terus memberiku "angin" hingga "perahu semangatku" masih terus dapat berlayar.


Singgahan,
Medio Kamis 10 September 2013

Dikisahkan kembali sesuai kisah aslinya oleh: Oviagus Budiyono

Last modified on Saturday, 28 September 2013 01:01
Rate this item
(11 votes)